Aplikasi Teori Weber pada Kawasan Industri

Aplikasi Teori Weber pada Kawasan Industri

Aplikasi Teori Weber pada Kawasan Industri

Perkembangan suatu kawasan industri memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, sehingga hal tersebut semakin memudahkan dalam hal penyediaan sarana infrastruktur yang diperlukan oleh pabrik-pabrik dalam melakukan produksinya. Dengan menggabungkan beberapa industri dalam satu kawasan, maka pemenuhan fasilitas sarana dan prasarana yang menunjang dan diperlukan untuk proses industri dapat dipenuhi dengan lebih mudah karena dikumpulkan dalam satu kawasan dan lebih murah sifatnya, karena dapat digunakan secara bersama. Selain itu, pada umumnya usaha industri yang sejenis dikelompokkan tersendiri, sehingga akan mempermudah dalam proses produksi hingga pendistribusian barang.

Aglomerasi ini terjadi di kawasan industri di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, yang meliputi aglomerasi pada industri batik (pemintalan, penenunan, dan finisihing juga dilakukan di Kecamatan Kerek) maupun pada industri semen. Industri pemintalan, tenun, dan finishing ini dapat merangsang timbulnya lembaga yang melatih dan mempersiapkan tenaga bagi industri tersebut.

Adapun tiga faktor (berdasarkan teori Weber) yang mempengaruhi penempatan lokasi industri di Kecamatan Kerek, meliputi:

 Bahan baku
Berdasarkan teori segitiga Weber, seorang produsen akan menentukan letak pabriknya di lokasi yang dapat memberikan keuntungan optimum. Pada industri semen, bahan baku semen mempunyai massa yang lebih berat apabila dibandingkan dengan hasil produksi semen jadi dalam kemasan (memiliki indeks material > 1). Oleh karena itu, tentu saja biaya untuk mengangkut bahan baku semen akan lebih tinggi daripada biaya untuk mengangkut semen kemasan. Hal inilah yang mendasari beberapa perusahaan semen untuk mendirikan pabrik di Kecamatan Kerek yang memang memiliki lokasi yang dekat dengan sumber bahan baku yang diperlukan, sehingga biaya untuk mengangkut bahan baku yang berupa batu-batuan tersebut dapat ditekan. Selain itu, biaya pengangkutan semen jadi ke lokasi pendistribusian di Gresik juga tidak terlalu jauh dari Kecamatan Kerek.

Dengan adanya aglomerasi, maka industri-industri semen tersebut juga dapat meningkatkan bidang penelitian dan pengembangan bersama. Pada umumnya, bidang penelitian ini memerlukan biaya yang mahal untuk ditanggung oleh satu perusahaan saja. Usaha tersebut merupakan suatu penghematan yang tidak kecil bagi setiap industri semen yang ada di Kecamatan Kerek.

 Tenaga kerja
Faktor tenaga kerja juga berpengaruh terhadap pemilihan lokasi industri. Industri semen biasanya lebih cenderung memilih lokasi yang memiliki banyak tenaga pria. Hal ini disebabkan oleh pekerjaan di dalam pemrosesan semen yang berat. Selain itu, produsen juga cenderung memilih suatu lokasi industri yang mampu menyediakan buruh yang murah.

Pada umumnya, produsen lebih menyukai tenaga kerja yang berasal dari daerah lokasi industri, sebab biaya transportasi yang dikeluarkan oleh tenaga kerja di pabrik tersebut lebih murah, sehingga para buruh tidak menuntut upah yang terlalu tinggi.

 Aksesibilitas
Selain atas dasar pertimbangan kedekatan terhadap bahan baku dan faktor tenaga kerja, aksesibilitas juga memiliki peranan penting di dalam menentukan lokasi dari suatu industri. Aksesibilitas dapat memacu proses interasi antar wilayah sampai ke daerah yang paling terpencil sehingga tercipta pemerataan pembangunan. Semakin kecil biaya transportasi antara lokasi bahan baku menuju pabrik dan lokasi pemasaran maka total cost-nya juga semakin kecil.
Industri semen di Kecamatan Kerek memiliki lokasi yang aksesibel, artinya lokasi industri tersebut dapat dijangkau oleh sarana transportasi, selain memiliki jaringan jalan yang memadai. Hal ini sangat penting dalam kaitannya dengan pendistribusian produk semen ke daerah lain (pasaran/market). Begitu pula dengan industri batik yang terdapat di Kecamatan Kerek tersebut.

Baca Juga :