Pembagian suku Karen

Table of Contents

Pembagian suku Karen

Pembagian suku Karen

Pembagian suku Karen

  • Karen Merah (Red Karen) / (Kayah)

Karen Merah (Karenni) terdiri dari kelompok berikut: Kayah, Geko (Kayan Ka Khaung, Gekho, Gaykho), Geba (Kayan Gebar, Gaybar), Padaung (Kayan Lahwi), Bres, Manu-Manaus (Manumanao), Yintale, Yinbaw, BWE, Paku, Shan dan Pao. Beberapa kelompok (Geko, Gebar, Padaung). milik Kayan, subkelompok dari Red Karen.

  •    Karen S’gaw

Karen kelompok terbesar dan paling tersebar luas. Banyak tinggal di Yangon, Bago (kabupaten Taungoo, dan kabupaten Tharyarwaddy), Mandalay (Pyin Oo Lwin dan Kalaw), Tanintharyi (Myeik dan Dawei), Ayeyarwaddy (kabupaten Hintharda), Karen Timur (Thanton) , Kayah Negara (Mawchi) dan Thailand (Chiang Mai). Bahasa Karen S’gaw adalah bahasa umum untuk sebagian besar orang Karen. Dalam istilah Karen, Karen S’gaw disebut Htee Bar.

  • Karen Pwo

Karen Pwo Timur tinggal di bagian barat Thailand dan daerah Kayin, Myanmar; Karen Pwo Barat tinggal di Irrawaddy, Burma. Dalam istilah Karen, Karen Pwo disebut Mo Htee.

  • Karen Putih

Sebagian besar Karen Putih tinggal dekat Pyinmana, Mandalay. Dalam istilah Karen, Karen Putih disebut Ka Nyaw Wah.

  • Karen Paku

Karen Paku tinggal di Taungoo, Bago, Kayah Negara, Mawchi dan timur Kayin, Thandong. Orang Karen Paku berbahasa sama dengan Karen S’gaw.

Di Provinsi Maehongson sebelah utara Kota Bangkok-Thailand, hiduplah beberapa suku gunung yang berasal dari Burma atau Myanmar. Diantaranya Suku Akha, Suku Karen, Suku Lisu dan sebagainya. Mereka adalah komunitas suku-suku yang memiliki latarbelakang sejarah dan kebudayaan unik.

Namun di antara suku-suku itu, Suku Karen yang dianggap paling unik. Di leher wanita-wanita Suku Karen dipasang gelang logam berwarna keemasan. Gelang-gelang ini fungsinya untuk membentuk leher dan kaki mereka agar lebih panjang, karena menurut adat mereka, semakin panjang leher wanitanya maka mereka akan dianggap semakin tampak cantik.

Yang lebih unik lagi alasan mereka mengenakan gelang-gelang itu dilatarbelakangi kebudayaan turun temurun serta kepercayaan bahwa wanita Suku Karen berasal dari seekor Burung Phoenix. Bagi orang Suku Karen, phoenix adalah nenek moyang wanita yang berpasangan dengan naga yang dianggap sebagai nenek moyangnya para pria suku itu.

Berat gelang besi di leher wanita dewasa mencapai 5 kg dan gelang kaki di bawah lutut beratnya masing-masing 1 kg. Berarti setiap hari mereka membawa beban 7 kg. Gelang tersebut mulai dipakaikan sejak mereka berusia 5  tahun. Awalnya hanya 2-3 tumpuk gelang, dan setiap 2-3 tahun sekali tumpukan gelang ditambah sampai mereka mencapai usia 19 tahun dimana gelang-gelang tadi digantikan dengan gelang besi yang terbuat dari 1 besi lonjor panjang yang dibentuk melingkar / dililitkan ke leher mereka. Gelang itu bisa dilepas tapi proses pelepasannya sendiri tidak mudah dan hanya dilakukan pada saat menikah, melahirkan dan meninggal dunia.

Berat gelang-gelang itu mendorong tulang selangka, tulang bahu dan tulang rusuk turun. Sehingga secara otomatis leher wanita-wanita karen memanjang. Semakin panjang, mereka merasa semakin mirip dengan Burung Phoenix nenek moyang mereka.

Fungsi lain dari gelang-gelang itu adalah sebagai pelindung. Dulu waktu mereka masih tinggal dipegunungan, mereka sering terlibat kontak dengan binatang buas seperti harimau, beruang dan sebagainya. Umumnya, binatang buas  menyerang manusia pada bagian leher dan tenggorokan. Untuk itulah gelang-gelang itu berfungsi sebagai pelindung bagi kaum hawa Suku Karen. Namun keunikan wanita Suku Karen bukan tak beresiko. Kaum wanita di suku ini kebanyakan hidup sampai umur 45-50 tahun saja. Kabarnya karena berat gelang yang mencapai 7 kg, dipercaya telah merusak tulang leher seiring bertambahnya usia mereka.

Sumber : https://multi-part.co.id/