Putri Yang Pergi Karena Cinta

Putri Yang Pergi Karena Cinta

Putri Yang Pergi Karena Cinta

Anak perempuan Kaisar Jepang kawin dengan rakyat jelata. Dia harus
meninggalkan istana dan kehilangan gelar kebangsawanan.

Putri yang Pergi karena Cinta

Untuk terakhir kalinya Putri Nori menatap lekat-lekat Istana
Amaterasu Omikami, yang telah didiaminya selama 36 tahun. Dia
melambai kepada staf istana dari jendela mobil limusin hitam yang
dikawal iringan motor polisi. Putri satu-satunya pasangan Kaisar
Akihito dan Permaisuri Michiko itu meninggalkan Istana Kekaisaran
Jepang pada Selasa pekan lalu. Nori, yang dikenal dengan panggilan
Putri Sayako, akan menjadi Nyonya Sayako Kuroda. Dia menikah dengan
Yoshiki Kuroda, 40 tahun, seorang pegawai kantor gubernur Tokyo.

Di sepanjang jalan menuju Hotel Imperial, tempat akad nikah, rakyat
melambaikan bendera Jepang, Hinomaru. Rasa bahagia bercampur haru
terpancar saat mereka melafalkan ucapan selamat: “Banzai….” Seorang
perempuan tua, Ranko Shibuya, menghapus air mata setelah melambai
kepada Nori. “Saya bisa merasakan Permaisuri Michiko mengucapkan
selamat tinggal kepada anak perempuan satu-satunya,” ujar Shibuya,
63 tahun.

Perkawinan ini bukan peristiwa biasa. Inilah pertama kali dalam 45
tahun, seorang putri kerajaan menikahi laki-laki biasa. Pada 1960
Takako Shimazu, anak perempuan kelima almarhum Kaisar Showa, kawin
dengan seorang pegawai bank. Dan, geger. Sebab, berdasarkan Undang-
Undang Kerumahtanggaan Kaisar, setiap putri kerajaan yang menikah
dengan rakyat biasa harus menanggalkan seluruh gelar kerajaannya.
Nasib itu kini dihadapi Putri Nori, yang memilih cinta ketimbang
istana.

Tak ada pesta gemerlap mengiringi pernikahannya. Upacara
perkawinannya sederhana saja untuk ukuran keluarga kaisar. Yang
hadir sekitar seratus orang. Di hadapan pendeta Shinto, Putri Nori
dan Yoshiki Kuroda saling berikrar. Nori mengenakan gaun sutra putih
serta kalung mutiara. Mempelai pria mengenakan jas hitam. Tak ada
prosesi tukar cincin, tak ada acara potong kue. Di saat perhelatan,
Nori bersalin kimono juni hitoe lawas koleksi ibunya.

Toh, sang Putri masih bernasib baik. Ayah dan ibunya sudi menghadiri
perhelatan. Pada masa lalu, kaisar dan permaisuri tak berkenan
menghadiri pernikahan anak gadisnya. Itulah “hukuman” bagi anak
perempuan kaisar yang mementingkan cinta ketimbang keluarga.

Nori juga beruntung karena Permaisuri Michiko menyokongnya dengan
menyiapkan Nori menghadapi dunia di luar tembok istana. Michiko
memang berasal dari luar istana, dia bukan berdarah biru. Setelah
kawin dengan Pangeran Akihito—kini Kaisar Jepang—Michiko menangani
sendiri pekerjaan rumah tangga. Kebiasaan itu ia tularkan kepada
Nori. Michiko membiasakan Nori memasak dan mencuci. “Putri Nori
membawa makan siang masakan permaisuri ke sekolah setiap hari,”
kenang Yoko Imai, teman Nori di SMP. Setelah pacaran dengan Kuroda,
teman abangnya (Pangeran Akishino), ia membawakan Kuroda makan siang
masakannya.

Kini Nori siap menjadi ibu rumah tangga dari kalangan biasa. Dia
memasak, membersihkan kondominium sewaan, mencuci, menyetrika,
berbelanja di supermarket, membuang sampah, dan menyetir mobil.
Surat izin mengemudinya baru ia peroleh dua bulan lalu. “Dalam
kehidupan barumu kelak, hendaklah kamu menjadi anggota masyarakat
yang baik sembari mengurus rumah tangga,” pesan Michiko kepada
putrinya.

Nori sendiri tak menyesal keluar dari istana. “Saya akan terus
memelihara kenangan dengan keluarga saya sembari menghadapi hidup
baru sebagai anggota keluarga Kuroda,” ujarnya. Rabu pekan lalu,
Jawatan Rumah Tangga Kekaisaran secara resmi mencatat kepergiannya
dari lingkaran keluarga kerajaan.

Tak akan ada lagi hak dan kewajibannya sebagai bangsawan. Tapi
pemerintah memberinya “pesangon” sebesar 152,5 juta yen (Rp 1,3
triliun) tunai.

Sumber : https://mayleneandthesonsofdisaster.us/