Ziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara sebagai Pengingat untuk Meneruskan Gagasan Pendidikannya

Ziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara sebagai Pengingat untuk Meneruskan Gagasan Pendidikannya

Ziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara sebagai Pengingat untuk Meneruskan Gagasan Pendidikannya

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan dan jajaran pejabat

Kemendikbud berziarah ke makam Ki Hadjar Dewantara di Yogyakarta. Ziarah dilakukan pada Kamis pagi, (19/5/2016), di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta. Ziarah ke makam Bapak Pendidikan Nasional tersebut merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2016 yang mengangkat tema “Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-cita”.

Kedatangan Mendikbud dan rombongan disambut puluhan mahasiswa dari Perguruan Taman Siswa. Setibanya di Taman Wijaya Brata, Mendikbud memimpin doa bersama sekaligus mengheningkan cipta di depan makam Ki Hadjar Dewantara yang bersebelahan dengan makam istrinya, Nyi Hadjar Dewantara, atau R.A Sutartinah Sasraningrat. Usai berdoa dan mengheningkan cipta, Mendikbud dan para pejabat melakukan tabur bunga dan penghormatan terakhir sebelum meninggalkan makam.



Mendikbud mengatakan, selain untuk memberikan penghormatan kepada pahlawan pendidikan

, ziarah ke makam Ki Hadjar Dewantara juga dilakukan sebagai peringatan bagi diri kita semua dalam mengemban tanggung jawab moral meneruskan pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan Ki Hadjar untuk dunia pendidikan Indonesia. “Tanggung jawab kita melakukan operasionalisasi dan pengembangan supaya pikiran-pikiran ini tidak hanya jadi pikiran filosofis, tapi juga menjadi teknis operasional untuk diterapkan,” ujar Mendikbud di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta, Kamis pagi (18/5/2016).

Gagasan-gagasan yang dimiliki Ki Hadjar, tutur Mendikbud, merupakan gagasan yang berada di tataran prinsip. Namun salah satu kekuatan dari pikiran atau gagasan itu adalah dapat dituangkan ke dalam berbagai konteks, baik pendidikan di desa, daerah pesisir, maupun perkotaan. “Yang penting kita kembangkan teknik-teknik praktisi. Ki Hadjar ini adalah anak bangsa yang usia pikirannya melampaui usia raganya,” tuturnya.

Ki Hadjar Dewantara terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, pada tanggal 2 Mei 1889. Ia berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta. Saat genap berusia 40 tahun, menurut hitungan Tahun Caka, ia berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Sejak itu ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Pada tanggal 3 Juli 1922 Ki Hadjar mendirikan Perguruan Taman Siswa.

Ajarannya yang terkenal adalah Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan memberi teladan),

Ing Madya Mangun Karsa (di tengah memberi semangat/dukungan), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan). Selepas kemerdekaan, pada 19 Agustus 1945, Ki Hadjar Dewantara diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Pengajaran Indonesia, yang kini dikenal sebagai Menteri Pendidikan. Kemudian pada 19 Desember 1956, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa Bidang Ilmu Kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional sesuai Surat Keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, Tanggal 28 November 2016. Ia juga dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Pada peringatan hari kemerdekaan RI 17 Agustus 1960, pemerintah RI memberinya anugerah Bintang Mahaputra Tingkat Satu.